Dari masa kemasa, dari waktu kewaktu kita diminta terus untuk beradaptasi oleh keadaan. Sebagai makhluk sosial manusia tidak bisa hidup sendirian, sejak lahir sampai masuk liang kubur selalu membutuhkan kehadiran orang lain selain dirinya sendiri. Jika manusia tidak berhubungan atau berinteraksi dengan sesama manusia lainnya, maka orang tersebut belum bisa dikatakan manusia. Sudah selayaknya kita sebagai manusia tegur sapa, berinteraksi, berpergian kesana kemari,melakukan hal yang kita sukai tanpa adanya rasa cemas akan keramaian ataupun kerumunan. Yaa...begitulah keadaan beberapa tahun lalu yang pernah dirasakan sebelum adanya covid 19 ini.

Sedikit berbagi cerita tentang pengalaman pribadi mengenai perberdaan dulu dan sekarang. Banyak orang yang kita lihat seolah tidak terjadi apa-apa padahal membutuhkan bantuan. Malu untuk meminta namun sekarang terpaksa melakukannya, mungkin semuanya dilakukan bukan karena sebuah keinginan, melaikan keterpaksaan dan keadaan yang menekan mereka untuk melakukannya.

Nasi Uduk x Lontong Sayur

Dimulai ketika matahari hampir sepenuhnya muncul ke permukaan, sekedar pergi keluar rumah untuk berjalan dan mencari udara segar. Tak lupa juga rutinitas kebanyakan orang Indonesia yang mencari sarapan ‘nasi’, karena sudah menjadi makanan pokok dan tidak afdol rasanya apabila belum memakan ‘nasi’. Singkat cerita sampai sudah di warung nasi uduk, langsung memesan dan menunggu antrian untuk dibuatkan. Ketika pesanan sedang dibuat, terlihat seorang bapak-bapak mendorong gerobak menjual lontong sayur yang seketika berhenti tepat di dekat warung nasi uduk dan seakan memanggil untuk membeli dagangannya. Suatu hal yang tidak biasa, dan ada rasa ingin membantu bapak tersebut namun apa boleh buat.

-perjalanan pulang-

Ketika sedang perjalanan pulang, tidak disangka bertemu kembali dengan bapak penjual lontong sayur, karena mungkin memang rezekinya bapak itu, saya langsung menghampiri dan bertanya dengan niat untuk membantu.

“lontong sayurnya masi ada pak?” tanya saya

“masi banyak de, mau berapa bungkus? 2 atau 3? ” tanya bapaknya

Cukup dengan sedikit percakapan namun sudah bisa diambil kesimpulan bahwa dagangan bapak itu belum habis serpeti biasanya. Saya membeli dagangan bapak itu karena memang sudah selayaknya kita membantu bukan? Tidak sebera yang kita bantu, yang pasti bermanfaat dan meringankan dagangan bapak itu. Mungkin faktor keadaan saat itu yang sangat sepi orang berpergian keluar rumah, yang harusnya dagangan bapak itu cepat habis, namun ketika sudah siang masi tersisa banyak.  

-Nasi Padang-

Cerita kali ini dimulai ketika matahari sudah berganti menjadi bulan. Kala itu saya sedang bersama ayah pergi keluar untuk mengunjungi tempat usahanya, sekedar membantu dan memperbaiki ketika ada yang perlu diperbaiki. Seiring berjalannya waktu, tak terasa hari semakin larut dan perut terasa lapar akibat beberapa kegiatan. Dengan cepat saya pergi mencari warung atau tempat makan yang masi buka saat itu dan singgahlah di warung makan padang. Yaa...wajar saja, orang Indonesia selalu makan 'nasi'  ketika pagi hingga malam. Sambil melihat lauk dan memesannya, didalam hati berkata “sudah malem gini kok lauk pauknya masi banyak dan lengkap”. Perlu kalian ketahui, menunggu pesanan selesai dan melihat kendaraan berlalu lalang di jalan, memperhatikan keadaan sekitar, merupakan sesuatu hal yang asik bagi saya pribadi

-pesanan selesai- 

sambil berbicara singkat dan mengembalikan kembalian uang, penjual tersebut berkata

“belum ada orang daritadi” sambil tersenyum

Perkataan yang tesirat dan menggambarkan bahwa keadaan yang berubah sangat berdampak terhadap penjualannya. Mungkin itu menjadi sebab mengapa penjual itu masi tetap buka walaupun hari sudah larut, pasti ada rasa ingin menyalahkan keadaan namun bukan waktu yang tepat untuk mengeluh. Untuk saat ini kita memang diminta untuk terus bersabar dan berdoa bahwa semuanya itu sudah diatur oleh yang maha kuasa.       

-sendal x ongkos-

Pergi ke suatu tempat baru merupakan hal yang asik untuk dilakukan, kita mendapatkan experience baru dan mungkin kejadian unik yang belum pernah kita alami. Langsung masuk ke pembahasan, saat ini banyak yang beralih profesi atau bahkan memang sudah menjadi pekerjaan dengan cara meminta sejumlah uang dan menjual rasa iba serta rasa kasian. Kejadian ini terjadi ketika hendak pulang sehabis mengantar ibu rapat di suatu tempat, ketika hendak berjalan keluar dari parkiran tiba-tiba ada penjual sendal yang menghampiri saya dan menawarkan jualannya. Awalnya memang dia menawarkan sendal jualannya, tetapi saat itu saya tidak membelinya dan meminta maaf karena tidak bisa membeli jualan bapak tersebut. Saya kira penjual itu langsung pergi, tetapi penjual tersebut malah bercerita bahwa dagangannya ternyata belum laku, menceritakan tempat asalnya, tentang keluarganya, dan keadaan dia saat ini. Di akhir cerita, penjual itu menyisipkan sepenggal kalimat

“punten a, sebetulnya saya malu tapi boleh minta sedikit uangnya ga 10 ribu/15 ribu buat makan”

Kejadian yang cukup membingungkan untuk hal seperti ini, entah memang faktanya seperti itu atau cara lain untuk mendapatkan penghasilan. Kejadian serupa juga pernah saya alami, kejadiannya ketika hendak pulang dari suatu tempat dan baru saja menutup pintu mobil ada seseorang yang langsung mengetuk pintu mobil sambil berkata maaf dan bercerita bahwa dia kehabisan ongkos untuk pulang ke rumah dan meminta uang dengan jumlah yang dia tentukan.

Sebetulnya tidak masalah akan hal itu, tetapi saya berfikir bahwa keadaan memang sangat memaksa kita semua untuk melakukan sesuatu yang belum pernah kita lakukan, terlebih untuk menyambung hidup. Tidak sedikit orang yang berani menyampaikan rasa malu terhadap apa yang dia lakukan, dan tidak sedikit juga orang yang memanfaatkan keadaan untuk sekedar buat tambahan uang 'jajan'. Untuk mereka yang punya tanggungan apalagi seorang perantau dan sudah berkeluarga, sepeser uang sangat berarti. Kita sadar bahwa seseorang dapat berada di titik tidak peduli akan rasa malu yang dihadapi, yang terpenting rasa lapar dan kebutuhan dapat terpenuhi. 

𝄖𝄖𝄖𝄖𝄖𝄖𝄖𝄖𝄖𝄖𝄖𝄖𝄖𝄖𝄖𝄖𝄖𝄖𝄖𝄖𝄖𝄖𝄖𝄖𝄖𝄖𝄖𝄖𝄖𝄖𝄖𝄖𝄖𝄖𝄖𝄖𝄖𝄖𝄖𝄖𝄖𝄖𝄖𝄖𝄖𝄖𝄖𝄖𝄖𝄖𝄖𝄖𝄖

Banyak waktu yang kita lewati sudah menjadi kenangan. Setiap jam, menit, detik sudah banyak terjadi perubahan yang tidak kita disadari. Ketika keadaan masi bersahabat, masalah seolah tidak begitu berat untuk diselesaikan. Yaa...walaupun tidak ada masalah yang memang benar-benar mudah diselesaikan, setidaknya begitulah gambaran singkat perbedaan keadaan dunia dahulu dan saat ini. Dari cerita singkat diatas, kita tahu bahwa hidup ini tidak hanya tentang beradaptasi, ada hal lain yang perlu kita pikirkan yaitu membantu sesama terlebih dikeadaan saat ini. Banyak orang diluar sana yang berhasil untuk beradaptasi dimasa sekarang dan tidak sedikit juga orang yang terpaksa banting stir untuk menyambung hidup karena faktor keadaan.

"Yang sejahtera bisa jadi sengsara" 

"Yang sengsara bisa jadi ..... "

Begitulah dunia saat ini. Semua tau roda kehidupan selalu berputar tanpa kita sadar, pernah merasakan bagaimana rasanya ketika berada diatas dan juga dibawah roda kehidupan. Semuanya kita lalui dengan menyesuaikan dan beradaptasi oleh keadaan. Khusus untuk saat ini, kita semua dituntut untuk lebih sabar dan siap dalam menghadapi cobaan, memikirkan bagaimana nasib kita kedepannya, serta mengulurkan tangan kepada yang membutuhkan. Satu hal yang perlu diingat, yang perlu kita lakukan, apapun keadannya yaitu untuk selalu bersyukur dan berdoa meminta petunjuk dari sang Pencipta.

Mungkin sekian kisah yang bisa saya bagikan kepada kawan blogger, terima kasih.

have a nice day!!!!